FESTIVAL BAU NYALE
Masyarakat di
Pulau Lombok, memiliki sebuah festival tradisional rutin tahunan dengan latar
belakang legenda Putri Mandalika dari Kerajaan Tonjang Beru, yaitu Festival
Bau Nyale.
Festival
Bau Nyale diistilahkan dalam bahasa Sasak artinya menangkap Nyale. Nyale adalah
cacing laut yang biasanya hidup di dasar laut, seperti lubang-lubang dalam
batu.
Kegiatan ini diadakan setiap tahun pada bulan kesepuluh atau dalam kalender Sasak dua puluh hari sekali atau 5 bulan sekali.
Kegiatan ini diadakan setiap tahun pada bulan kesepuluh atau dalam kalender Sasak dua puluh hari sekali atau 5 bulan sekali.
Acara
inti dari festival tersebut adalah menangkap Nyale di Pantai Selatan Pulau
Lombok, Indonesia. Nyale biasanya muncul pada saat tengah malam sampai subuh.
Sejarah
Menurut
mitos, pada zaman dahulu kala di sepanjang Pantai Selatan terdapat Kerajaan
Tonjang Beru yang dipimpin oleh seorang raja yang memiliki seorang putri cantik
bernama Putri Mandalika.
Suatu ketika sang putri menetapkan untuk melemparkan diri ke Pantai Selatan dan berjanji akan kembali setiap setahun sekali. Sesuai bersama dengan kata-katanya, dia kembali setiap tahun namun dalam bentuk Nyale.
Kisah lain mengatakan bahwa Nyale adalah inkarnasi dari rambut Putri Mandalika.
Suatu ketika sang putri menetapkan untuk melemparkan diri ke Pantai Selatan dan berjanji akan kembali setiap setahun sekali. Sesuai bersama dengan kata-katanya, dia kembali setiap tahun namun dalam bentuk Nyale.
Kisah lain mengatakan bahwa Nyale adalah inkarnasi dari rambut Putri Mandalika.
Sebelum
perayaan inti dimulai, seni kuno dan beberapa acara dipentaskan. Selain itu
juga diselenggarakan sebuah drama besar Putri Mandalika.

Festival
Bau Nyale di istilahkan dalam bahasa Sasak artinya menangkap Nyale. Nyale
adalah cacing laut yang biasanya hidup di dasar laut, seperti lubang-lubang
dalam batu.
Para
Wisatawan juga diperbolehkan berpartisipasi untuk mencari nyale di lokasi ini.
Jika Anda cukup beruntung, Anda akan mendapatkan banyak Nyale yang memiliki
kandungan protein tinggi dan siap untuk mengeluarkan zat yang terbukti dapat
membunuh kuman.
Cara
memasak nyale yang umum di lakukan oleh masyarakat Lombok adalah membungkus
nyale dengan daun pisang dan kemudian membakarnya, yang biasa disebut pepes.
Nyale
terus menerus muncul di beberapa Pantai di Lombok, seperti Pantai Kaliantan,
Pantai Kuta, dan Pantai Selong Belanak.
Umumnya Pantai ini dikelilingi oleh deretan perbukitan. Namun, dari ketiga pantai tersebut yang paling utama dikunjungi wisatawan adalah Pantai Kuta.
Umumnya Pantai ini dikelilingi oleh deretan perbukitan. Namun, dari ketiga pantai tersebut yang paling utama dikunjungi wisatawan adalah Pantai Kuta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar